Sekretaris Jendral DPP Partai Persatuan Pembangunan, Romahurmuziy, menilai isu kudeta atas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlalu dibesar-besarkan. Saat ini, bagi dia, tidak ada pematangan kudeta di lini manapun, baik secara sosial, ekonomi maupun massal.
"Kalau kemudian timbul kudeta, ada faktor yang tidak pernah timbul. Orang yang mengatakan kudeta hari ini, alih-alih meraih simpati tentu akan dibenci," ujar Romahurmuziy, Jumat 22 Maret 2013.
Romi, demikian sapaannya, menegaskan kudeta dalam satu tahun sebelum pemilu berlangsung adalah tindakan yang sangat tidak menguntungkan. Karena alasan seseorang dikudeta adalah karena jabatannya yang tidak bisa diverifikasi.
"Yang disampaikan presiden adalah perspektif beliau. Kudeta ini lebih merupakan isu belaka. Mustahil karena tidak ada pematangan apapun hari ini. Tidak ada gerakan yang menunjukan konsetrasi massa dan terlalu damai," kata dia.
Sementara itu terkait isu kudeta terhadap SBY, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Jhony Alen, mengatakan perkumpulan dijamin oleh UU, namun apabila bertujuan untuk makar dan kudeta tentu hal itu termasuk pelanggaran hukum.
"Apapun alasannya kudeta bukan untuk kepentingan negara, itu merusak. Ada konstitusi kok, ada lembaga pengontrol, ada yudikatif, negara dikontrol harus, pemerintah dikontrol juga harus," tegasnya.
Seperti diketahui, isu upaya kudeta terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyeruak kembali. Salah satu dari tujuh purnawirawan jenderal TNI yang bertemu dengan SBY pekan lalu misalnya mengatakan prihatin dengan upaya-upaya menurunkan Presiden SBY secara inkonstitusional.
Namun kemarin Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo membantah adanya isu kudeta, terlebih yang melibatkan prajurit TNI. Pramono mengatakan, tuduhan kudeta biasanya ditujukan pada tentara. Tapi, ujarnya, hal itu tidak akan pernah terjadi di bumi Indonesia. Ia menekankan pada bawahannya untuk menerima demokrasi.
Oleh karenanya, mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat itu mengatakan isu kudeta tidak perlu dikembangkan sebab akan memberi cerita buruk bagi Indonesia. (ren)
news.viva.co.i

0 comments:
Post a Comment