VIVAlife - Siapa bilang dunia seni Indonesia lesu? Faktanya, galeri-galeri seni Indonesia ternyata sudah meletakkan pondasi eksistensi di pameran internasional.
Dalam ajang seni di seputaran Asia, nama Indonesia sudah dikenal. Begitupula di pameran Sout East New York. Seniman Indonesia pun telah unjuk gigi di pameran seni paling bergengsi di Venezia, sejak sekitar tahun 2003.
Tahun ini, lagi-lagi Indonesia mengirimkan wakil ke ajang prestisius itu. Lima seniman beda generasi akan menampilkan instalasi seni terbaiknya ke Venezia Biennale, di anjungan Indonesia Pavilion. Ini merupakan keikutsertaan pertama setelah beberapa saat absen dari ajang itu.
Mengusung konsep 'Sakti' seniman Indonesia siap melenggang. Sakti berarti sebuah penjelajahan estetika para seniman dengan mempertimbangkan aspek sejarah, sosial, dan nilai pluralisme budaya lokal.
Sakti bisa diinterpretasikan menjadi berbagai definisi untuk kemudian diejawantahkan ke dalam karya seni yang berbeda-beda. Mulai dari sisi politik, budaya, sosial, pendidikan, sampai pencarian jati diri yang erat berkaitan dengan religiusitas.
Adalah pemuda berusia 29 tahun, Albert Yonathan, yang turut merepresentasikan konsep sakti. Ia membuat deretan stupa berbentuk labirin. Ini simbol enlightening dan kemanusiaan, sedangkan labirin adalah proses perjalanan untuk merasakan pengalaman spiritual dan transformasi menjadi sakti. "Di Eropa kuno, pencapaian jiwa manusia dikaitkan dengan labirin," ujarnya pada VIVAlife.
Selain Albert, masih ada empat seniman lain yang karyanya juga akan dipamerkan di Indonesia Pavilion selama 6 bulan di Venezia.
Bagi seorang kurator asal Italia, Achille Bonito, apa yang ditampilkan dalam Pavilion Indonesia pasti akan menarik perhatian internasional. Pasalnya, ia menilai Indonesia sebagai negara yang kompleks dan jamak. Sarat akan keberagaman yang mengarah pada potensi seni dan budaya.
"Seni berkaitan erat dengan keberagaman dan eksistensi," ujar Achille di sebuah forum diskusi di Plaza Mandiri, Gatot Subroto, Kamis, 21 Maret 2013.
Seperti halnya Italia, ia melanjutkan, Indonesia masih memiliki nilai-nilai kuno yang diadaptasi dengan modernitas. Paradoks seni di Indonesia menampilkan perpaduan antara proyeksi masa lalu, penilaian masa kini, dan prediksi masa depan.
Dalam lima instalasi yang akan dipamerkan pada Venezia Biennale, Achille melihat adanya romantisme unsur lokal Indonesia yang bergandengan mesra dengan bahasa seni dunia. "Dalam bahasa latin, itu disebut genus lochi, atau bahasa sederhananya globalisasi. Ini sebuah seni yang diperuntukkan bagi dunia," komentarnya.
Achille juga mengatakan bahwa seni kontemporer Indonesia mengandung kesadaran akan sejarahnya sendiri, sekaligus kebutuhan berpartisipasi dalam sejarah masa kini. Seni, katanya, merupakan hal yang tak lekang oleh waktu.
Seniman bisa meninggal seperti manusia lain, namun karyanya tetap abadi. "Seni itu melubangi waktu. Menantang kode apapun, melampaui ide tradisional, dan bekerja dengan prinsip eksperimen," bebernya. Dan menurut Achille, Indonesia Pavilion punya semua kualitas itu.
• VIVAlife

0 comments:
Post a Comment