| Paranoia AS Menghadapi Perkembangan Persenjataan Nuklir Korea Utara dan Iran | |
| Author : Tim Global Future Institute(GFI) | |
Amerika
Serikat dan sekutunya Korea Selatan dalam beberapa minggu belakangan
ini sedang dilanda kecemasan. Aktivitas situs nuklir Korea Utara
meningkat akhir-akhir ini. Satelit pengintai Seoul berhasil menangkap
gambar adanya peningkatan aktivitas di Punggye-ri, Povinsi Hamgyong
Utara, sebuah lokasi yang pernah digunakan pemerintah Korea Utara
sebagai tempat uji coba nuklir pada Oktober 2006.
Pemerintahan Korea Selatan yang merupakan sekutu strategis Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II, juga mencurigai Korea Utara sedang mempercepat proyek pembangunan tempat peluncuran rudal jarak jauh baru di Dongchang-ri, 120 km barat luat Pyongyang ibukota Korea Utara. Informasi yang berkembang seputar rencana uji coba nuklir Korea Utara itu selama ini telah dijadikan sebagai bagian dari perang urat syaraf antara Korea Utara dan Selatan, Sekaligus sebagai war by proxy antara Cina dan Amerika. Bahkan tak jarang, isu rencana uji coba nuklir Korea Utara seringkali menjadi ajang bagi Cina untuk menaikkan harga tawar terhadap Amerika. Karena itu, masuk akal jika ancaman terbaru Korea Utara untuk melakukan uji coba rudal balistik yang kedua kalinya, telah memicu kegusaran Amerika. Karena secara geopolitik dan geostrategis, hal ini tentu akan menciptakan destabilisasi terhadap sekutunya Korea Selatan. Betapa besarnya keterlibatan negara-negara besar dalam kasus penggunaan nuklir Korea Utara terbukti bahwa selama ini pembicaraan nuklir Pyongyang selalu melibatkan enam negara, yakni AS< Rusia, Cina, Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang. Sejauh ini, perundingan berkaitan dengan nuklir Korea Utara ini mengalami jalan buntu, termasuk prakarsa terakhir Amerika baru-baru ini yang dipimpin oleh Stephen Bosworth, utusan khusus Amerika untuk masalah nuklir Korea Utara. Di era kepresidenan Barrack Obama sejak awal 2009, pendekatan terhadap Cina nampaknyan akan dijadikan prioritas karena diyakini bakal menjadi kunci utama dimulainya lagi perundingan enam negara. Memang, selama ini Cina termasuk salah satu negara yang menolak adanya resolusi baru PBB menyusul uji coba peluncuran roket Korea Utara pada awal April 2009. Meski pada akhirnya setuju juga dengan keluarnya resolusi PBB yang mengecam uji coba nuklir Korea Utara. Kalau dipikir-pikir, Amerika ini menggunakan standar ganda. Kalau negara-negara sekutu yang menguji-coba senjata nuklirnya seperti Pakistan dan Israel, Amerika sepertinya pura-pura tidak tahu. Tapi ketika Korea Utara atau Iran yang dianggap bermusuhan dengan Amerika ada tanda-tanda hendak menguji-coba senjata nuklirnya, langsung saja mendesak PBB dan Badan Energi Atom Dunia(IAEA) untuk menginpeksi reaktor-reaktor nuklir Korea Utara di Yongbyon. Mengenang Operasi Merlin CIA Inilah salah satu kisah betapa Amerika sangat terobsesi untuk menghalang-halangi suatu negara yang dianggap musuh untuk mengembangkan persenjataan nuklirnya. Salah satu kasus yang mengemuka yang sempat dijadikan target operasi CIA adalah Iran. Semasa pemerintahan Presiden Amerika Bill Clinton, CIA menggelar operasi Merlin. Gagasannya adalah, melalui sebuah operasi intelijen, Amerika akan memberikan kepada Iran sebuah desain yang memiliki kekurangan (flawed design) untuk rancangan hulu ledak nuklir. Tujuan dari Operasi Merlin ini sebenarnya sederhana saja. CIA berharap begitu formula setengah jadi ini di tangan Iran, kemudian akan dijadikan bukti oleh Amerika bahwa Iran memang benar-benar sedang membuat senjata nuklir. Dan dalam keadaan siap dengan teknologi nuklir. Maka, seorang ilmuwan Rusia yang sudah membelot ke CIA, kemudian ditugaskan untuk membawa rancangan blueprint bom nuklir kepada perwakilan Iran di International Atomic Energy Agency di Wina, Austria. Sebuah operasi yang beresiko tinggi dan bersifat spekulatif. Di tangan ilmuwan Rusia, yang sejak membelot ke Amerika kemudian bekerja untuk CIA itu, terdapat sebuah formula bagaimana menciptakan ledakan sempurna yang dapat memicu reaksi berantai nuklir di dalam sebuah bola inti kecil. Tapi di sinilah sisi rawan dari Operasi Merlin. Merlin berarti ”melakukan program yang sama sekali berbeda dari apa yang tampak dari luar.” Seolah-olah ada agen CIA yang membocorkan sebuah formula untuk mendesain senjata nuklir kepada agen intelijen Iran, padahal formula tersebut sebenarnya dalam keadaan belum lengkap untuk mendesain persenjataan nuklir. Karena itu, ilmuwan Rusia yang membelot ke Amerika dan bekerja di CIA dengan gaji 5000 dollar AS per bulan itu, harus berperan sebagai ilmuwan pengangguran yang tamak, dan ingin menjual dirinya berikut rahasia bom atom kepada penawar tertinggi. Dalam skenario yang dibayangkan CIA, agen-agen Iran dengan cepat mengenali nilai strategis rancangan tersebut, dan segera melaporkan hal itu kepada Teheran. Begitulah, dengan membawa rancangan yang sebenarnya secara teknis salah kepada Iran lewat agen CIA yang berperan sebagai ahli persenjataan nuklir, CIA sebenarnya malah bermaksud untuk memperlambat perkembangan nuklir Iran. Dalam skenario CIA, Iran akan mempercayai desain yang dibocorkan agen CIA tersebut, dan kemudian mempelajarinya. Tapi kemudian ketika pada perkembangannya kemudian para ilmuwan Iran mencoba melakukan uji coba leadakan, ledakan dengan gumpalan awan berbentuk jamur tersebut tidak akan terjadi, sehingga para ahli nuklir Iran akan menyaksikan sebuah kegagalan yang mengecewakan. Sehingga dalam bayangan CIA selanjutnya, Iran akan menghentikan program nuklirnya, sehingga tujuan negara itu untuk menjadi negara nuklir terpaksa tertunda selama beberapa tahun. Namun rencana yang sudah disusun secara matang tersebut ternyata berantakan. Ternyata si ilmuwan Rusia yang ditugaskan oleh CIA tersebut, memang seorang ahli nuklir yang tidak bisa dibohongi begitu saja. Karena dia langsung tahu bahwa rancangan atau formula pembuatan bom atom tersebut ternyata tidak lengkap dan belum layak untuk dijadikan formula pembuatan bom atom. Namun karena operasi ini bersifat tertutup dan hanya beberapa orang agen CIA yang tahu skenario sebenarnya di balik operasi Merlin, maka tak ada seorangpun anggota CIA yang menanggapi komentar kritis ahli Rusia tersebut. Tapi,karena si Rusia ini memang sudah bisa menduga skenario CIA tersebut, dia malah punya ’agenda” tersendiri dengan permainan ini. Ketika sampai di Wina, ahli Rusia yang berperan sebagai kurir CIA tersebut, lalu dia malah menulis surat kepada Iran dan memperingatkan tentang fakta bahwa CIA bermaksud membocorkan sebuah formuala pembuatan bom atom, namun faktanya adalah dalam rancangan tersebut terdapat kekurangan pada tahapan tertentu dari blueprint tersebut. Begitulah. Rancangan palsu yang seolah-olah adalah formula yang dibocorkan secara diam-diam kepada Iran itu ternyata telah diketahui oleh Iran berkat informasi dari ahli nuklir Rusia yang merasa dibohongi oleh CIA. Karena memberi perintah kepadanya namun tidak jujur mengenai apa hakekat dari Operasi Merlin sebenarya. Ini jelas sebuah skandal yang memalukan bagi pemerintahan Bill Clinton. Dengan bocornya operasi intelijen CIA, Iran justru malah mempercepat program nuklirnya begitu Iran berhasil mengindentifikasi rancangan yang cacat tersebut. Artinya, dengan mengetahui dengan segera kelemahan pada blueprint yang dibocorkan CIA, Iran malah justru sangat terbantu untuk mengembangkan senjata nuklirnya dengan rancangan yang seharusnya. Padahal, operasi Merlin justru misi utamanya adalah menghambat perkembangan persenjataan nuklir Iran. Dengan latarbelakang cerita tersebut, sebenarnya masuk akal saja ketika President George W. Bush yang menggantikan Clinton, kemudian mendesak Iran agar menghentikan program nuklirnya. Karena itu, operasi CIA serupa boleh jadi pernah juga dilakukan terhadap Korea Utara maupun negara lain yang dianggap berbahaya bagi Amerika. Namun besar kemungkinan, juga mengalami kegagalan seperti halnya Operasi Merlin. Hanya saja operasi Merlin berhasil terbongkar melalui investigasi James Risen,wartawan The New York Times melalui buku bertajuk The State of War. Peran Penting Abdul Qadeer Khan Ada sisi lain yang tak kalah menarik di balik isu uji coba nuklir Korea Utara ini adalah peran dari ilmuwan nuklir Pakistan Abdul Qadeer Khan. Belum banyak yang tahu bahwa selain sebagai ilmuwan nuklir Pakistan, Bapak Bom Atom Pakistan ini menurut informasi adalah orang yang merancang program nukir sekaligus membangun jaringan ilmuwan Pakistan untuk menyelundupkan teknologi nuklir tersebut kepada negara-negara yang memang membutuhkan untuk pengembangan persenjataan nuklirnya. Nampaknya Abdul Qadeer Khan inilah yang selama ini memasok teknologi nuklir kepada Korea Utara, Iran dan Libya. Dan adalah Abdul Qadeer Kahn ini pula yang kemudian berhasil membandingkan rancangan yang dia miliki dengan desain palsu yang seakan-akan telah dibocorkan oleh Amerika. Selain itu, meski India bermusuhan dengan Pakistan, namun bukan tidak mungkin kemajuan pesat India dalam pengembangan teknologi nuklir, juga berkat jaringan ilmuwan Pakistan yang berada dalam orbit Abdul Qadeer Khan. Pada 1998, Amerika dikabarkan sempat lengah dan kecolongan dengan keberhasilan India dalam uji coba nuklirnya tanpa diketahui sama sekali oleh intelijen Amerika. Seperti juga Iran dan Korea Utara, Amerika memandang kemajuan pesat India dalam bidang ekonomi, teknologi dan pertahanan, sebagai suatu potensi ancaman di kawasan Asia Selatan, apalagi mengingat kedekatan India dengan Rusia, yang juga dianggap Amerika sebagai kekuatan baru yang sedang bangkit seperti halnya Uni Soviet di era perang dingin tempo dulu. Berkaitan dengan peran kunci dari jaringan ilmuwan Pakistan yang berada dalam orbit Abdul Qadeer Khan, akan dikupas dalam tulisan tim Global Future Institute berikutnya. Tim Global Future Institute(GFI) | |
Content
Korea Utara tanpa AS, Bagamana indonesia
SN PRODUCTION
Berita Hukum dan Kriminal
HUKUM
Berita Sosial
SOSIAL
Labels
Artikel
(121)
BISNIS
(2)
BUDAYA
(6)
EKONOMI
(5)
Favourite
(2)
HUKUM
(25)
Jadwal Bola Ter Up date
(1)
KESEHATAN
(4)
Klasemen Bola
(2)
Kumpulan Film
(30)
OLARAGA
(52)
PENDIDIKAN
(8)
POLITIK
(41)
RAGAM
(8)
Selebritis
(3)
SOFTWARE
(2)
SOSIAL
(7)
story
(2)
TEKNOLOGI
(3)
TV Online
(4)

0 comments:
Post a Comment